Rabu, 10 Februari 2010

Valentine Katolik

Tentang St. Valentine’s day

Ditulis oleh Ingrid Listiati on Feb 8th, 2010 di kategori: TJ: Hal Kontemporer, Tanya-Jawab. Ikuti yang terbaru dari tulisan dan komentar ini lewat RSS 2.0. Silakan meninggalkan pesan/pertanyaan.

Pertanyaan:
Shalom Stef dan Ingrid…
Sebentar lagi, sebagai besar orang akan merayakan Valentine Day. Bahkan, kado-kado istimewa sudah dipersiapkan untuk orang-orang tercinta atau yang dikasihinya. Khusus di kalangan muda-mudi, Valentine Day sering dimaknai berlebihan dan salah kaprah, khususnya dalam hal berpacaran.
Sehingga di hari valentine, tak jarang terjadi hubungan intim dan itu dianggap bagian dari kasih sayang. Dalam kondisi itu, valentine day menjadi kecemasan bagi orangtua. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara atau sikap yang tepat memaknai valentine day? Bagaimana cara yang patut dilakukan khususnya kalangan muda-mudi merayakannya?Terimakasih atas jawabannya. Jab’s Simbolon

Jawaban:
Shalom Jab’s,
Ada beberapa St. Valentine yang dikenal dalam tradisi Gereja Katolik. Namun yang sering dihubungkan dengan Valentine’s day, adalah kisah yang ini, silakan klik. St. Valentine (abad 3) yang dikisahkan di sini adalah ia yang menjadi martir karena sebagai imam ia banyak menikahkan pasangan muda- mudi, dan dengan demikian ia melanggar perintah Kaisar Claudius di Roma yang pada waktu itu melarang kaum pemuda untuk menikah karena ia berpendapat mereka yang menikah akan terikat pada keluarga dan tidak dapat menjadi serdadu kerajaan yang baik. St. Valentine tidak mengindahkan larangan tersebut, dan meluluskan permohonan para muda- mudi yang ingin menikah, dan karenanya ia ditangkap dan akhirnya dibunuh.
Mengenai makna hari itu yang sekarang jadi dimaknai menyimpang, sampai mengakibatkan hubungan intim muda-mudi di luar pernikahan, tentu menjadi keprihatinan kita semua. Sebab bukan demikian maksudnya. Kasih yang sejati itu sanggup menunggu/ “True love waits” sampai mereka sungguh dipersatukan oleh Tuhan sendiri. Mungkin ini yang harus ditekankan oleh pihak orang tua dan para pengajar muda- mudi. Silakan membaca buku karangan Paus Yohanes Paulus II, “Theology of the Body”, yang telah diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia oleh Romo Deshi Ramadhani SJ.
Maka sebaiknya untuk merayakan Valentine’s day, jika ingin merayakannya, saya rasa yang terbaik adalah: para orang tua berdoalah bersama- sama dengan anak remaja mereka itu, sebelum mengizinkan mereka pergi. Jika perlu berdoalah bersama dengan “sang calon” mohonkan rahmat iman, kemurnian dan kasih yang tulus. Kepada ayah/ bapa, silahkan memberkati anaknya, dan setelah anak itu pergi, silakan orang tua berdoa rosario/ berdoa bersama dengan ibu untuk mendoakan anaknya, agar malaikat Tuhan menjaga mereka dan menghindari mereka dari kuasa jahat.
Selanjutnya, kalau mau me-maknai kasih sayang dengan lebih umum, tidak terbatas pada pasangan muda/i, kita dapat memberi tanda kasih, entah berupa kartu atau kado sederhana, kepada orang-orang yang berjasa pada kita, kepada mereka yang sering kita minta bantuan, yang sering kita lupakan. Kartu/ kado ini bisa diberikan kepada orang tua, guru, sahabat, bahkan pembantu rumah tangga kita, yang sebenarnya menjadi “sahabat” yang membantu kita setiap hari.
Perayaan/ peringatan Valentine’s day jika hanya untuk merayakan persahabatan, itu tidak menjadi masalah, karena pada dasarnya merayakan kasih sayang itu tidaklah keliru asalkan tidak berlebihan. Maka jika acaranya hanya makan- makan atau jika yang berkumpul banyak pasangan muda/i, disertai dengan acara permainan, itu tidak menjadi masalah. Yang salah adalah jika kasih sayang itu diartikan keliru, yang mengarah kepada kehendak sendiri, di luar hukum Tuhan. Inilah yang harus dihindari oleh kaum muda mudi. Sesungguhnya jika para kaum muda mau belajar sedikit saja dari banyaknya surat tentang problema perkawinan yang masuk ke situs ini, mereka akan mengetahui bahwa hubungan seks sebelum pernikahan ternyata membawa banyak masalah, dan bahkan banyak akhirnya menjurus kepada perpisahan. Nantinya kedua belah pihak dapat merasa dibohongi, dan tersiksa sesudahnya atas akibat perbuatan mereka. Ini harus diakui sebagai konsekuensi dosa, yang sebenarnya tidak perlu dialami, seandainya dosa tersebut tidak dilakukan. Bagi yang sudah terlanjur melakukan, tidak ada kata terlambat untuk bertobat, sebab ada kalanya Tuhan mengizinkan seseorang belajar bertumbuh justru dari pengalaman yang menyakitkan. Namun selanjutnya, ikutilah kehendak Tuhan, jika kemurnian kasih dan kasih sejati yang dicari. Semoga dengan demikian, para muda mudi dapat menemukan pasangan hidup yang sejati, yang mengasihi dengan tulus, tanpa dinodai oleh keinginan daging yang bertentangan dengan perintah Tuhan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,Ingrid Listiati- www.katolisitas.org


St. Valentine
Patron of Love, Young People, Happy Marriages269
St. Valentine
Valentine was a holy priest in Rome, who, with St. Marius and his family, assisted the martyrs in the persecution under Claudius II. He was apprehended, and sent by the emperor to the prefect of Rome, who, on finding all his promises to make him renounce his faith in effectual, commended him to be beaten with clubs, and afterwards, to be beheaded, which was executed on February 14, about the year 270. Pope Julius I is said to have built a church near Ponte Mole to he memory, which for a long time gave name to the gate now called Porta del Popolo, formerly, Porta Valetini. The greatest part of his relics are now in the church of St. Praxedes. His name is celebrated as that of an illustrious martyr in the sacramentary of St. Gregory, the Roman Missal of Thomasius, in the calendar of F. Fronto and that of Allatius, in Bede, Usuard, Ado, Notker and all other martyrologies on this day. To abolish the heathens lewd superstitious custom of boys drawing the names of girls, in honor of their goddess Februata Juno, on the fifteenth of this month, several zealous pastors substituted the names of saints in billets given on this day.
The Origin of St. Valentine
The origin of St. Valentine, and how many St. Valentines there were, remains a mystery. One opinion is that he was a Roman martyred for refusing to give up his Christian faith. Other historians hold that St. Valentine was a temple priest jailed for defiance during the reign of Claudius. Whoever he was, Valentine really existed because archaeologists have unearthed a Roman catacomb and an ancient church dedicated to Saint Valentine. In 496 AD Pope Gelasius marked February 14th as a celebration in honor of his martyrdom.
The first representation of Saint Valentine appeared in a The Nuremberg Chronicle, a great illustrated book printed in 1493. [Additional evidence that Valentine was a real person: archaeologists have unearthed a Roman catacomb and an ancient church dedicated to Saint Valentine.] Alongside a woodcut portrait of him, text states that Valentinus was a Roman priest martyred during the reign of Claudius the Goth [Claudius II]. Since he was caught marrying Christian couples and aiding any Christians who were being persecuted under Emperor Claudius in Rome [when helping them was considered a crime], Valentinus was arrested and imprisoned. Claudius took a liking to this prisoner -- until Valentinus made a strategic error: he tried to convert the Emperor -- whereupon this priest was condemned to death. He was beaten with clubs and stoned; when that didn't do it, he was beheaded outside the Flaminian Gate [circa 269].
Saints are not supposed to rest in peace; they're expected to keep busy: to perform miracles, to intercede. Being in jail or dead is no excuse for non-performance of the supernatural. One legend says, while awaiting his execution, Valentinus restored the sight of his jailer's blind daughter. Another legend says, on the eve of his death, he penned a farewell note to the jailer's daughter, signing it, "From your Valentine."
St. Valentine was a Priest, martyred in 269 at Rome and was buried on the Flaminian Way. He is the Patron Saint of affianced couples, bee keepers, engaged couples, epilepsy, fainting, greetings, happy marriages, love, lovers, plague, travellers, young people. He is represented in pictures with birds and roses.

sumber: www.katolisitas.org

Main Bol Uma Nyaving

Pada 23/1/2010 yang lepas bersamaan dengan hari Sabtu,8.30 malam telah berlangsung satu mesyuarat di Awa Ayak Blok B.Tujuan mesyuarat itu hanyalah satu,iaitu untuk membentuk Komiti induk penganjuran bolasepak piala Krismas 2010 yang mana hak penganjuran tahun ini secara prinsipnya telah diberikan kepada Uma Nyaving Hungei ASap.
Biar pun jumlah ahli mesyuarat tidaklah begitu ramai tetapi ia telah cukup untuk membentuk sebuah komiti induk.Senarai nama komiti induk yang telah dilantik pada malam itu adalah seperti berikut:

Penasihat: Alexander Lehan
Pengerusi: Awie Abang
Pen.Pengerusi: Thomas Edem Pudong
Setiausaha: Richard Neh
Pen. Setiausaha: Jeffery Usat
Bendahari: Joe Among
Pen. Bendahari: Jimmie Bit

Dalam mesyuarat itu juga,ahli mesyuarat juga bersetuju untuk membentuk komiti-komiti kecil untuk melicinkan lagi proses penganjuran.Komiti-komiti kecil tersebut adalah:

ü Komiti jadual perlawanan/pertandingan
ü Komiti padang dan peralatan perlawanan
ü Komiti peraturan/undang perlawanan
ü Komiti pengadil
ü Komiti displin dan rayuan
ü Komiti protocol dan hadiah
ü Komiti publisiti
ü Komiti keselamatan

Oleh kerana ini hanyalah sebuah mesyuarat ‘pemula’ maka semua bersetuju bahawa tidak ada pemilihan/lantikan untuk komiti kecil.


Mesyuarat ditangguhkan pada jam 10 malam.

Kecemerlangan Hidup Melalui Sukan